Powered by Blogger.

TRAVELLINESIA

TRAVELLINESIA

TRANSLATE

BACA JUGA

Showing posts with label MUSEUM. Show all posts
Showing posts with label MUSEUM. Show all posts

Museum Lampung; Jejak Sejarah dan Budaya Sai Bumi Ruwa Jurai

Museum Lampung kebanggaan masyarakat di provinsi paling Selatan Pulau Sumatera  ini cukup strategis. Sebab, tak jauh dari pusat kota Bandar Lampung, yakni hanya 15 menit perjalanan. Museum Lampung berlokasi di Jl. Zainal Arifin Pagar Alam No. 64, Gedung Meneng, Bandar Lampung.

Dengan memanfaatkan bangunan bergaya arsitektur khas Lampung, museum ini menyimpan beragam benda prasejarah, benda budaya, serta flora dan fauna khas Lampung. Berdasarkan data tahun 2011, Museum Lampung menyimpan sekira 4.735 benda koleksi. Benda-benda tersebut terbagi dalam 10 kelompok, yaitu koleksi geologika, biologika, etnografika, historika, numismatika/heraldika, filologika, keramologika, seni rupa, dan teknografika.

 Koleksi terbanyak adalah etnografika yang mencapai 2.079. Koleksi etnografika merupakan benda yang biasa dipakai dalam kehidupan sehari-hari dan yang menjadi ciri khas kebudayaan masyarakat Lampung di masa lampau.

 Pembangunan Museum Lampung telah dimulai tahun 1975 dan peletakan batu pertama dilaksanakan tahun 1978. Akan tetapi, peresmiannya baru dilaksanakan pada 24 September 1988 dan diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kala itu, Prof. Dr. Fuad Hasan. Peresmian tersebut bertepatan dengan peringatan Hari Aksara Internasional yang dipusatkan di PKOR Way Halim. 

Museum Lampung, salah satu tempat kunjungan wisata sejarah sebagai sarana pendidikan, penelitian dan rekreasi. Di halaman museum, bahkan beberapa koleksi unik museum ini akan sudah menyambut setiap pengunjung. Tampak meriam kuno peninggalan masa penjajahan menjadi salah satu ikon dari Museum Lampung itu sendiri. Selain meriam, replika rumah adat Lampung juga berdiri di halaman museum. Rumah adat lampung dikenal berbentuk panggung yang dimaksudkan untuk melindungi si pemilik rumah dari binatang buas.

 Di tambah lagi, ada juga bola besi pembuka lahan. Bola besi ini identik dengan identitas Lampung sebagai daerah tujuan transmigrasi pada 1953-1956. Bola besi ini digunakan untuk membuka lahan transmigrasi di wilayah Lampung Timur, Raman Utara dan Purbolinggo, Kabupaten Lampung Timur, Seputih Banyak, dan Seputih Raman. Adapun cara pengoperasiannya adalah dengan ditarik dua traktor guna menumbangkan pohon dan semak di areal tanah datar yang akan menjadi lokasi transmigrasi.

 Sementara di dalam museum, koleksi yang ditampilkan, antara lain koleksi benda budaya yang mewakili dua kelompok adat yang dominan di Lampung, yakni Sai Bathin (Peminggir) dan Pepadun. Kedua kelompok adat ini masing-masing memiliki kekhasan dalam hal ritual adat dan perangkat atau aksesori adat, seperti kain tradisional khas Lampung, kain tapis. Rangkaian ritual kedua kelompok adat masing-masing ditampilkan berurutan, mulai dari ritual kelahiran, asah gigi menjelang dewasa, pernikahan, hingga ritual kematian.

 Museum terdapat zona fauna khas Sumatera yang terdiri dari gajah, harimau, trenggiling, dan sebagainya. Juga terdapat diorama Gunung Krakatau meletus tahun 1883. Selanjutnya, di sepanjang koridor belakang, banyak terdapat situs purbakala neolithikum yang hidupnya nomaden, beberapa arca, menhir, dan lainnya.

 Koleksi museum juga termasuk benda peninggalan masa Kerajaan Sriwijaya dimana Lampung masuk ke dalam wilayah kekuasaannya. Peninggalannya berupa naskah kuno di atas daun lontar, arca, baju besi pengawal kerajaan, pakaian adat berusia puluhan tahun, keramik, perhiasan kuno, dan uang benggol. Museum ini juga menyimpan beberapa peninggalan Radin Inten yang merupakan pahlawan Lampung dan keturunannya, seperti senjata dan lainnya.

Secara umum, koleksi museum meliputi berbagai benda peninggalan zaman prasejarah, zaman Hindu-Buddha, zaman kedatangan Islam, masa penjajahan, dan pasca-kemerdekaan. Selain dapat melihat-lihat koleksi museum, pada waktu-waktu tertentu taman budaya atau pusat kesenian di museum ini menggelar pagelarann musik tradisional dan tarian daerah Lampung. (*)

Museum Gedung Joang '45 Jakarta

Museum Gedung Joang '45 merupakan saksi perjuangan yang menyimpan cukup banyak sejarah tentang berbagai peristiwa ketika kemerdekaan RI akan berlangsung. Gedung Joang 45 ini lokasinya berada di Jl. Menteng Raya 31, Jakarta. Untuk Anda yang tertarik dengan sejarah dari perjuangan kemerdekaan RI, maka Museum Joang 45 merupakan salah satu tempat wisata di Jakarta yang wajib untuk kunjungi. Pada awalnya Gedung Joang 45 adalah sebuah bangunan Schomper Hotel yang sudah dibangun sejak tahun 1920-1938, yang dikelola L.C. Schomper, keturunan Belanda.

Kemudian pada waktu pendudukan Jepang di Indonesia, hotel ini kemudian diambil alih Ganseikanbu Sendenbu atau Departemen Propaganda dan setelah itu dikenal sebagai Gedung Menteng 31.

Gedung ini kemudian menjadi sebuah markas program pendidikan politik yang diselenggarakan untuk beberapa tokoh pemuda yang sangat berperan pada era kemerdekaan, antara lain seperti Sukarni, A.M Hanafi, Chaerul Saleh dan Adam Malik.

Mereka juga lebih dikenal sebagai 'Pemoeda Menteng 31', yang kemudian menjadi aktor dibalik penculikan Soekarno, Hatta dan Fatmawati menuju ke Rengasdengklok satu hari sebelum hari kemerdekaan tiba. Tokoh-tokoh para pemuda tersebut dibina langsung oleh Soekarno, Hatta, Sunaryo, Moh. Yamin dan juga Achmad Subarjo.
Museum Joang '45 Jakarta
Museum Joang '45 Jakarta
foto : wikipedia
Sejumlah lukisan yang berkaitan dengan peristiwa proklamasi kemerdekaan RI di pamerkan di Museum Gedung Joang '45 ini. Disini juga terdapat beberapa miniatur yang menggambarkan suasana Gedung Menteng 31 pada waktu masa kemerdekaan dan orasi Soekarno dalam sebuah Rapat Besar di Lapangan IKADA yang diadakan pada 19 September 1945.

Di Museum Gedung Joang '45 ini juga terdapat arsip dokumentasi yang berupa foto-foto dan juga patung dada dari para tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan. Berbagai koleksi lain yang juga terdapat di museum ini adalah seperti tiga kendaraan kepresidenan yang dahulunya digunakan oleh Presiden dan Wakil Presiden pertama Rakyat Indonesia.

Selain terdapat cukup banyak dokumentasi sejarah, Museum Gedung Joang 45 juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas, antara lain adalah seperti ruang pameran tetap dan temporer yang disertai pojok multimedia, disini juga ada yang dinamakan bioskop joang 45 dan menayangkan berbagai film yang bertemakan perjuangan dan juga dokumenter, perpustakaan yang berisikan berbagai referensi sejarah, children room yang berisikan aneka ragam games, foto studio, souvenir shop dan juga plaza outdoor untuk berbagai aktivitas teater para anak.

Menarik sekali bukan ? terutama sih untuk para pecinta sejarah kemerdekaan Indonesia, sebagai akomodasi wisata, kami juga memiliki referensi hotel murah di Jakarta untuk Anda yang ingin lebih menghebat uang saku. Untuk yang ingin liburan ke Jakarta, kami juga memiliki referensi daftar tempat wisata di Jakarta yang dapat Anda jadikan pilihan.

Bagelen; Kolonisasi Pertama di Indonesia

Bagelen, adalah nama sebuah desa asal-usul masyarakat Purworejo yang bermukim di Lampung. Nama daerah yang berjarak sekitar 50 km sebelah utara Kota Yogyakarta itu sejak tahun 1900-an tak hanya dikenal di Pulau Jawa, tetapi juga di Provinsi Lampung. Saat itu, kafilah generasi pertama dibawa salah satu tokoh yang bertindak sebagai koordinator bernama Kartoredjo. Rombongan ini disebut juga sebagai cikal bakal kolonisasi Desa Bagelen, Gedong Tataan yang ditempatkan tahun 1905. Sebab, mereka warga kolonis pertama yang diberangkatkan dari Desa Bagelen di daerah Jawa Tengah.

Rombongan kolonis memulai perjalanan dengan menumpang kereta api menuju Batavia (sekarang Jakarta). Mereka kemudian menempuh jalur laut dari Pelabuhan Tanjung Priok ke Pelabuhan Teluk Betung menggunakan kapal uap. Rombongan kolonis menaiki kapal barang yang memang menjadi rata-rata transportasi masa itu. Pelabuhan Teluk Betung, lokasi sekarang di Gudang Lelang, Sukaraja. Mereka diturunkan di sana karena itu memang pelabuhan di Lampung. Pelabuhan Panjang yang ada sekarang baru dibuka tahun 1912.

Rombongan angkatan pertama tersebut, setelah sampai di pelabuhan dan beristirahat sehari di sebuah gudang di Teluk Betung, untuk ke lokasi penempatan selanjutnya berjalan kaki. Selama proses kolonisasi yang untuk periode pertama kalinya berlangsung, pemerintah Hindia Belanda tidak lepas tangan. Mereka bahkan turun langsung untuk memastikan proses berjalan baik. Hal itu dibuktikan dengan kehadiran Asisten Residen Banyumas HG Heyting yang memimpin rombongan di tengah-tengah penduduk Bagelen.


Daerah yang mereka tuju tempat bernama Gedong Tataan. Selama tiga hari rombongan ini berjalan. Barang-barang bawaan dari Jawa dipikul atau dipanggul. Bila lelah rombongan beristirahat. Daerah yang dituju, yaitu Gedong Tataan, ternyata masih berupa hutan belukar dan tempatnya belum banyak dihuni penduduk.

Rombongan kolonis angkatan Kartoredjo yang didatangkan ke Gedong Tataan, saat itu sebanyak 43 orang, yang 3 diantaranya wanita. Ketiganya diberi tugas khusus untuk masak memasak. Ketika itu, betapa sulitnya menerobos hutan. Jalan yang dilewati masih berupa jalan setapak. Sementara, perkampungan penduduk pribumi Lampung yang ada di daerah ini kebanyakan masih perdusunan/pedukuhan dan umbul-umbul.

Setelah tiba ke tempat tujuan, mulailah mereka menebangi pohon-pohon dan semak belukar di areal yang dituju. Dengan kerja keras dan peralatan seadanya, rombongan pertama ini membuka lokasi baru Kolonisasi Gedong Tataan. Selanjutnya setelah daerah penempatan sudah terbuka, secara bertahap kolonis-kolonis ini mulai membangun tempat tinggal masing-masing dengan berdindingkan papan/kayu, bambu/gribik serta beratapkan rumbia/alang-alang.

Kedatangan para kolonis dari daerah Bagelen, Purworejo, Jawa Tengah ke wilayah Gedong Tataan, dalam penempatannya tidak terjadi sekaligus. Namun rombongan tersebut datang secara berangsur-angsur selama kurun waktu beberapa tahun seiring dengan kesiapan penyiapan untuk lahan permukiman yang dilakukan rombongan pendahulunya. Hadirnya para kolonis dengan tempat tinggal mereka, membuat tumbuh perkampungan permanen baru di daerah ini. Tempat yang tadinya jarang penduduknya dan masih banyak ditumbuhi pepohonan serta semak belukar di mana-mana itu lambat laun mulai lebih banyak yang bermukim.

Setelah kedatangan kolonis ke daerah ini, perkembangan bukaan baru terus mengalami kemajuan. Bukan hanya dalam hal tingkat keramaian maupun bangunan fisik saja, tetapi juga daerah yang ada secara berangsur-angsur mulai semakin terbuka dan penduduk kolonis pun makin bertambah. Sebagai masyarakat datangan, mereka mau bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup dan membangun daerahnya, walaupun ketika itu segala sesuatu masih serba terbatas.

Secara umum, rombongan kolonis dari Pulau Jawa yang datang ke Gedong Tataan dibagi dalam 5 tahap, yaitu angkatan pertama tahun 1905, angkatan kedua tahun 1906, angkatan ketiga tahun 1907, angkatan keempat tahun 1908 dan angkatan kelima tiba tahun 1909. Hal ini berarti kedatangan rombongan direncanakan pemerintah Hindia Belanda selama kurun waktu 5 tahun berturut-turut.

Selanjutnya, tahun 1910 pemerintah Hindia Belanda memberikan kebijakan dengan menyerahkan tanah-tanah di Desa Bagelen, Gedong Tataan pada rakyat desa untuk 537 bauw atau sekitar 424 hektar. Setiap kepala keluarga (KK) mendapat bagian tanah 1 bauw. Dengan perincian, 0,25 bauw untuk pekarangan dan 0,75 bauw untuk persawahan atau perladangan. Ini dimaksudkan agar warga kolonis selain memiliki permukiman juga lahan untuk pertanian dan perkebunan.

Secara garis besarnya, berdasarkan dari monografi Desa Bagelen, Gedong Tataan, jumlah rombongan warga kolonisasi daerah Bagelen, Purworejo, Jawa Tengah, yang didatangkan ke wilayah Gedong Tataan, yakni rombongan pertama datang tahun 1905 sebanyak 43 orang, terdiri dari 40 orang laki-laki dan 3 perempuan yang dipimpin Tuan Steng.

Pada tahun 1906 atau rombongan kedua menyusul sebanyak 203 orang atau 100 kepala keluarga (KK) yang dipimpin Tuan Heers. Tahun 1907, datang lagi sebanyak 100 orang atau 50 KK. Rombongan ketiga ini dipimpin oleh Tuan Alweek. Rombongan keempat tiba tahun 1908 menyusul sebanyak 500 orang atau 250 KK dipimpin Tuan Baang dan rombongan kelima tahun 1909, jumlah jiwa yang didatangkan tidak jelas. Karena rombongan ini diperkirakan lebih sedikit dari sebelumnya. Begitu pula dengan yang memimpin rombongan tersebut.

Dari kelima gelombang kedatangan para kolonis, yang terbanyak rombongannya didatangkan tahun 1908. Rombongan yang dipimpin oleh Tuan Baang ini mencapai 250 kepala keluarga atau sebanyak 500 jiwa. Sementara rombongan yang sedikit tiba pada gelombang pertama tahun 1905 yang dipimpin oleh Tuan Steng atau Eteeng. Kolonis yang didatangkan hanya 43 jiwa, yang 3 diantaranya wanita.

Jumlah kepala keluarga yang melakukan kolonisasi perdana, tercatat dalam dokumen resmi pemerintah Hindia Belanda. Walaupun begitu, dokumen tersebut terkadang tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Angka 155 kepala keluarga atau 815 jiwa, perkiraan kuota yang ditetapkan pemerintah. Jumlah itu bisa bertambah maupun berkurang dengan batasan yang tidak terlampau jauh dari angka kuota.

Bentuk tanggung jawab yang ditunjukkan pemerintah Hindia Belanda karena kolonisasi merupakan program terencana. Perpindahan penduduk dari wilayah padat, khususnya Jawa, ke wilayah lain yang relatif lebih lapang di luar Jawa telah menjadi wacana sejak lama. Wacana itu muncul jauh sebelum kolonisasi akhirnya direalisasikan.

Perencanaan pelaksanaan kolonisasi mulai dipersiapkan setelah politik etis dicanangkan di tahun 1902. Pemerintah Hindia Belanda melakukan penelitian mendalam sebelum merealisasikan rencananya. Mereka melaksanakan survei di beberapa lokasi yang akan menjadi tujuan kolonisasi nantinya. Seiring pelaksanaan survei, pemerintah pun melakukan uji coba kolonisasi. Uji coba dilaksanakan antarwilayah di Jawa, yaitu dari Kedu ke Banyuwangi. Hal itu ternyata gagal. Karena, pemerintah tidak melakukan perencanaan yang matang. Penduduk yang dipindahkan lalu dikembalikan ke lokasi awal.

Sementara, survei kolonisasi dilaksanakan di Pahiyang, Bengkulu; Sawah Lunto, Sumatera Barat; Madusari, Kalimantan Selatan; Gedong Tataan, Lampung serta beberapa wilayah di Sulawesi Tengah. Pemerintah Hindia Belanda, melakukan penelitian di lokasi-lokasi tersebut terutama untuk menilai kelayakan permukiman dan pertanian. Hasilnya, Gedong Tataan di Lampung dipilih menjadi lokasi kolonisasi pertama. Dari sekian wilayah yang di survei, Lampung memiliki kepadatan penduduk terendah sebesar 5 jiwa per kilometer persegi. Kepadatan penduduk di lokasi lain rata-rata 10 jiwa per kilometer persegi. Kepadatan penduduk menjadi prioritas utama.

Pemerintah Hindia Belanda menganggap kolonisasi program besar. Supaya program tersebut berhasil, pemerintah melakukan penelitian secara serius. Penelitian mula-mula mengkaji kelayakan tanah. Tanah di lokasi tujuan kolonisasi harus datar dan subur. Selain itu, sumber air pun harus banyak tersedia. Kajian tersebut bertujuan agar pertanian yang akan dilakukan bisa berhasil. Lampung dipilih karena semua hal itu tersedia. Tanah di Gedong Tataan memenuhi syarat. Sumber air pun banyak. Hal lain yang menjadi penelitian, aspek sosial dan budaya masyarakat. Budaya masyarakat lokal Lampung dinilai memiliki penerimaan yang baik terhadap masyarakat pendatang. Kenyataan itu untuk menghindari terjadinya konflik kemudian hari antara masyarakat pendatang dan pribumi.

Sembari melakukan perekrutan, pemerintah Belanda menyiapkan lahan untuk kolonisasi di Gedong Tataan. Proses persiapan lahan diawali dengan permintaan izin kepada pemangku adat Lampung di Padang Ratu, Kedondong, untuk menggunakan lahan di Gedong Tataan. Hal itu dilakukan karena masyarakat lokal lekat dengan tanah ulayat atau adat. Sementara, luasan tanah ulayat tidak pernah memiliki ukuran yang jelas. Untuk menghindari perselisihan lahan ke depannya, pemerintah kolonial Hindia Belanda meminta izin terlebih dahulu ke pemangku adat setempat.

Setelah mendapat izin, pemerintah kemudian membuat batas lahan untuk kolonisasi. Hal itu dilakukan dengan membuat pagar di sekeliling lahan. Pemerintah pun mulai melakukan pembukaan lahan yang ketika itu masih berupa hutan. Dengan kondisi sumber daya alam (SDA) yang ada, pola kolonisasi yang akan diterapkan berupa padi sawah serta palawija. Pemerintah pun membangun infrastruktur rumah sebagai tempat tinggal kolonis nantinya. Satu rumah diperuntukkan bagi dua sampai tiga keluarga. Adapun lahan garapan berada di seputar rumah tersebut.

Meskipun demikian, pembukaan lahan yang dilakukan pemerintah tidak secara utuh. Beberapa bagian lahan masih berupa hutan. Sehingga kolonis masih tetap membuka lahan ketika sampai di Gedong Tataan. Artinya, wilayah kolonisasi sudah dibatasi, tetapi lahannya belum diratakan semua. Masih ada berupa hutan. Jadi sebelum menggunakan lahan, kolonis masih melakukan pembukaan lahan.

Berdasarkan pembagian atas lokasi lahan tanah kepada setiap kepala keluarga, rumah-rumah penduduk kolonis pada areal yang dibuka dibuat bersusun dengan posisi berjejer dan dibatasi jalan penghubung. Uniknya, jalan-jalan yang ada di desa ini rata-rata berbentuk pertigaan (simpang tiga) dan sejumlah persimpangan yang membujur lurus hingga ke pertigaan berikutnya.

Sejak tahun 1905 hingga 6 Juni 1987, Desa Bagelen terdiri dari 10 (sepuluh) pedukuhan, masing-masing Pedukuhan Bagelen I, Bagelen II, Bagelen III, Bagelen IV, Bagelen V (Jembarangan), Bagelen VI (Kutoarjo I), Bagelen VII (Kutoarjo II), Bagelen VIII (Karang Anyar I), Bagelen IX (Karang Anyar II) dan Pedukuhan Bagelen X (Wonorejo).

Ketika Budi Utomo sebagai organisasi modern pertama di Indonesia yang berdiri tanggal 20 Mei 1908, yang merupakan tonggak sejarah permulaan mulainya pergerakan nasional, tidak terlihat adanya tanda-tanda organisasi ini berpengaruh besar di Lampung, terutama di Desa Bagelen, Gedong Tataan. Pengikut Budi Utomo disini belum nampak, meskipun di daerah ini sebelum dan sesudahnya telah berlangsung kolonisasi.

Hal ini dapat difahami, mengingat para penduduk asal Jawa yang berkolonisasi ke wilayah Pesawaran waktu itu kebanyakan rakyat biasa yang belum faham benar dalam berorganisasi, meskipun kolonis pertama disebutkan beberapa diantaranya termasuk aktivis yang dianggap dapat membahayakan Hindia Belanda. Di penempatan, mereka tidak untuk di didik maupun diberikan kebebasan dalam mengikuti suatu organisasi. Sementara, Budi Utomo umumnya banyak bergerak dari kalangan terpelajar, kaum bangsawan maupun priyayi yang kesemuanya dapat digolongkan sebagai kaum elite.

Meskipun demikian, terlepas tonggak pergerakan nasional di Pulau Jawa, kedatangan ratusan jiwa kolonis asal daerah Jawa Tengah ke daerah ini juga merupakan babak baru perkembangan dan pembauran masyarakat antar pulau sebelum adanya program pemerintah Republik Indonesia yang dikenal dengan sebutan transmigrasi.

Perkembangan jiwa penduduk terus bertambah dari waktu ke waktu membuat desa tersebut semakin ramai. Pertambahan penduduk tidak hanya disebabkan dengan kedatangan rombongan para kolonis dalam beberapa tahap, akan tetapi perkembangannya juga dari keturunan-keturunan selanjutnya. Peningkatan jumlah jiwa dibarengi pula dengan adanya penambahan tempat tinggal dan permukiman warganya.

Selain perumahan warga kolonis, di lokasi Kolonisasi Gedong Tataan ini juga dibangun berbagai fasilitas menyangkut pengaturan warganya, seperti pemerintahan desa hingga sarana pendidikan. Di Desa Bagelen telah pula dibangun Bagelen School, sekolah desa setingkat sekolah dasar yang diperuntukkan bagi anak-anak masyarakat setempat.

Meningkatnya jumlah penduduk yang bermukim disertai pula dengan penambahan kepala keluarga. Semenjak tanggal 6 Juni 1987, Desa Bagelen, Kecamatan Gedong Tataan, yang waktu itu masih menjadi bagian dari desa dan kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan telah dimekarkan menjadi beberapa desa yang wilayahnya terdiri dari pedukuhan, masing-masing Pedukuhan Bagelen I, Bagelen II, Bagelen III dan Pedukuhan Bagelen IV.

Adapun kepala desa (Kades) yang pernah memimpin Desa Bagelen, Kecamatan Gedong Tataan, antara lain Poerwo (1905-1907), Kartoredjo (1907-1912), Sastro Sentiko (1912-1920), Pawiro Tinoyo (1920-1945), Mangunrejo (1945-1958), Sastro Suwarno (1958-1968), Suparman (1968-1970), Ahmad Fariji (1970-1980), Toyo Day Rizal (1980-1988), Wagiso (1988-2006) dan Edi Suriyanto (2006 hingga periode 2013). 

Nah, bila Anda ingin berwisata sejarah, mendatangi Desa Bagelen, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung salah satunya. Di sini juga terdapat Museum Nasional Ketransmigrasian, untuk mengingat jejak kolonisasi pertama yang penempatannya di Desa Bagelen ini.

Museum Taman Prasasti Cagar Budaya Peninggalan Belanda

Museum Taman Prasasti Cagar Budaya Peninggalan Belanda lokasinya ada di Jalan Tanah Abang No. 1, Jakarta Pusat. Museum ini mempunyai cukup banyak koleksi prasasti nisan kuno dan juga ada miniatur berbagai makam khas yang berasal dari 27 provinsi di Indonesia, beserta berbagai koleksi kereta jenazah yang antik.

Museum ini memiliki luas kurang lebihnya sekitar 1,2 ha dan merupakan sebuah museum yang terbuka untuk umum dengan menampilkan berbagai karya seni yang berasal dari masa lalu dan tentang kecanggihan dari para pematung, pemahat, kaligrafer dan juga sastrawan yang menjadi satu. Kini museum ini menjadi salah satu bagian dari tempat wisata di Jakarta dan untuk yang tertarik bisa mengunjunginya.

Sejarah Museum Taman Prasasti Jakarta
Pada awalnya Museum Taman Prasasti yang lokasinya berada di Jl. Tanah Abang I ini hanya merupakan sebuah pemakaman umum yang bernama Kebon Jahe Kober dengan luas kurang lebih sekitar 5,5 ha dan pertama kali dibangun pada tahun 1795 untuk pengganti dari kuburan lain yang ada di samping gereja Nieuw Hollandsche Kerk, namun sekarang Museum Wayang, yang telah penuh.

Sebuah makam yang baru ini memiliki simpanan koleksi nisan yang berasal dari berbagai tahun sebelumnya dikarenakan sebagian besar merupakan pindahan yang berasal dari pemakaman Nieuw Hollandse Kerk pada sekitar awal abad 19. Nisan-nisan yang telah dipindahkan ini juga ditandai dengan sebuah tulisan HK, Hollandsche Kerk.

Kemudian pada tanggal 9 Juli 1977, pemakaman Kebon Jahe Kober ini dijadikan sebuah museum yang dibuka untuk umum dan dengan memiliki koleksi prasasti, nisan, dan makam sebanyak kurang lebih sekitar 1.372 yang bahannya terbuat dari batu alam, marmer, dan juga perunggu. Dikarenakan perkembangan dari kota Jakarta, sekarang luas dari museum ini semakin menyusut dan tinggal hanya sekitar 1,3 ha saja.
Museum Taman Prasasti
Museum Taman Prasasti
Foto : wikipedia
Koleksi Museum Taman Prasasti 
Pada museum ini dihimpun berbagai prasasti dari jaman Belanda dan juga sebelumnya, serta disini juga terdapat makam beberapa tokoh Belanda, Inggris dan Indonesia atau Hindia Belanda seperti :

  1. A.V. Michiels (seorang tokoh militer Belanda pada perang Buleleng)
  2. Dr. H.F. Roll (Seorang Pendiri STOVIA atau Sekolah Kedokteran pada masa pendudukan Belanda)
  3. J.H.R. Kohler (tokoh militer Belanda pada perang Aceh)
  4. Olivia Marianne Raffles (istri Thomas Stamford Raffles, seorang mantan Gubernur Hindia Belanda dan Singapura)
  5. Kapitan Jas, makamnya dipercaya sebagian orang bisa memberikan kesuburan, keselamatan, kemakmuran dan juga kebahagiaan.
  6. Miss Riboet, seorang tokoh opera pada tahun 1930-an
  7. Soe Hok Gie, seorang aktivis pergerakan mahasiswa pada tahun 1960-an

Waktu/Jam Buka Museum Taman Prasasti

Museum Taman Prasasti dibuka untuk umum mulai hari Selasa - Minggu dari pukul 09.00 - 15.00 WIB. Dengan tiket masuk seharga kira-kira hanya Rp 1.000 sampai dengan Rp 2.000. Senin dan Hari Besar tutup.

Museum Nasional Ketransmigrasian


Museum Nasional Ketransmigrasian adalah salah satu museum nasional yang mendokumentasikan catatan sejarah tentang keberhasilan prosestransmigrasi di Indonesia yang terletak di Provinsi Lampung. Museum ini merupakan museum transmigrasi pertama dan yang satu-satunya yang ada di dunia. Museum ini tepatnya terletak di Desa BagelenKecamatan Gedong TataanKabupaten Pesawaran. Museum Nasional Ketransmigrasian ini dibagun karena alasan historis.
Museum ini dibagun dengan luas 63 hektare dan terdapat 3 lantai. Di museum ini juga terdapat kolam renang, sentra kerajinan, panggung terbuka, 10 anjungan rumat adat dari daerah asal transmigran, perpustakaan, mushola, tempat parkir, lapangan, areal persawahan, dan masih ada lagi.
Pembangunan Museum Nasional Ketransmigrasian bertujuan untuk menyediakan sarana dan prasarana bagi pengkajian program transmigrasi di Indonesia. Museum ini juga bertujuan untuk menyediakan wahana pembelajaran tentang sejarah ketrasnmigrasian di Indonesia bagi generasi muda.
Museum Nasional Ketransmigrasian dibangun berkat ide dari Bapak Prof. Dr. Ir. Muhajir Utomo. Museum ini kemudian mulai dibagun pada tanggal 12 Desember 2004 bertepatan pada Hari Bhakti Transmigrasi ke-54. Peletakan batu pertamanya dilakukan oleh gubernur Lampung ke-9, Drs. Sjachroedin ZP. Museum ini dibangun karena kawasan lokasi di Desa Bagelen ini merupakan kawasan kolonialisasi yang dimulai pada tahun 1905 oleh Pemerintahan Hindia Belanda. Kolonialisasi merupakan istilah pada zaman Pemerintahan Hindia Belanda untuk transmigrasi.
Museum Nasional Ketransmigrasian sekarang memiliki lebih dari 254 koleksi. Koleksi di dalam museum ini diantaranya adalah alat pertukangan, alat rumah tangga, alat pertanian, peralatan dapur, alat kesenian, alat penangkap ikan, foto-foto dokumentasi, pakaian adat dan musik Bali, dan masih banyak lagi.

Museum Geologi Bandung


Museum Geologi didirikan pada tanggal 16 Mei 1928. Museum ini telah direnovasi dengan dana bantuan dari JICA (Japan International Cooperation Agency). Setelah mengalami renovasi, Museum Geologi dibuka kembali dan diresmikan oleh Wakil Presiden RI, Megawati Soekarnoputri pada tanggal 23 Agustus 2000. Sebagai salah satu monumen bersejarah, museum berada di bawah perlindungan pemerintah dan merupakan peninggalan nasional. Dalam Museum ini, tersimpan dan dikelola materi-materi geologi yang berlimpah, seperti fosil, batuan, mineral. Kesemuanya itu dikumpulkan selama kerja lapangan di Indonesia sejak 1850.

Semasa Penjajahan Belanda Keberadaan Museum Geologi berkaitan erat dengan sejarah penyelidikan geologi dan tambang di wilayah Nusantara yang dimulai sejak pertengahan abad ke-17 oleh para ahli Eropa. Setelah Eropa mengalami revolusi industri pada pertengahan abad ke-18, Eropa sangat membutuhkan bahan tambang sebagai bahan dasar industri. Pemerintah Belanda sadar akan pentingnya penguasaan bahan galian di wilayah Nusantara. Melalui hal ini, diharapkan perkembangan industri di Negeri Belanda dapat ditunjang. Maka, pada tahun 1850, dibentuklah Dienst van het Mijnwezen. Kelembagaan ini berganti nama jadi Dienst van den Mijnbouw pada tahun 1922, yang bertugas melakukan penyelidikan geologi serta sumberdaya mineral.
  • Hasil penyelidikan yang berupa contoh-contoh batuan, mineral, fosil, laporan dan peta memerlukan tempat untuk penganalisaan dan penyimpanan,sehingga pada tahun 1928 Dienst van den Mijnbouw membangun gedung di Rembrandt Straat Bandung. Gedung tersebut pada awalnya bernama Geologisch Laboratorium yang kemudian juga disebut Geologisch Museum.
  • Gedung Geologisch Laboratorium dirancang dengan gaya Art Deco oleh arsitek Ir. Menalda van Schouwenburg, dan dibangun selama 11 bulan dengan 300 pekerja serta menghabiskan dana sebesar 400 Gulden. Pembangunannya dimulai pada pertengahan tahun 1928 dan diresmikan pada tanggal 16 Mei 1929.
  • Peresmian tersebut bertepatan dengan penyelenggaraan Kongres Ilmu Pengetahuan Pasifik ke-4 (Fourth Pacific Science Congress) yang diselenggarakan di Bandung pada tanggal 18-24 Mei 1929.

Sebagai akibat dari kekalahan pasukan Belanda dari pasukan Jepang pada perang dunia II, keberadaan Dienst van den Mijnbouw berakhir. Letjen. H. Ter Poorten (Panglima Tentara Sekutu di Hindia Belanda) atas nama Pemerintah Kolonial Belanda menyerahkan kekuasaan teritorial Indonesia kepada Letjen. H. Imamura (Panglima Tentara Jepang) pada tahun 1942. Penyerahan itu dilakukan di Kalijati, Subang. Dengan masuknya tentara Jepang ke Indonesia, Gedung Geologisch Laboratorium berpindah kepengurusannya dan diberi nama KOGYO ZIMUSHO. Setahun kemudian, berganti nama menjadi CHISHITSU CHOSACHO.

Selama masa pendudukan Jepang, pasukan Jepang mendidik dan melatih para pemuda Indonesia untuk menjadi: PETA (Pembela Tanah Air) dan HEIHO (pasukan pembantu bala tentara Jepang pada Perang Dunia II). Laporan hasil kegiatan pada masa itu tidak banyak yang ditemukan, karena banyak dokumen (termasuk laporan hasil penyelidikan) yang dibumihanguskan tatkala pasukan Jepang mengalami kekalahan di mana-mana pada awal tahun 1945.

Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, pengelolaan Museum Geologi berada dibawah Pusat Djawatan Tambang dan Geologi (PDTG/1945-1950). Pada tanggal 19 September 1945, pasukan sekutu pimpinan Amerika Serikat dan Inggris yang diboncengi oleh Netherlands IndiĆ«s Civil Administration (NICA) tiba di Indonesia. Mereka mendarat di Tanjungpriuk, Jakarta. Di Bandung, mereka berusaha menguasai kembali kantor PDTG yang sudah dikuasai oleh para pemerintah Indonesia. Tekanan yang dilancarkan oleh pasukan Belanda memaksa kantor PDTG dipindahkan ke Jl. Braga No. 3 dan No. 8, Bandung, pada tanggal 12 Desember 1945. 

Kepindahan kantor PDTG rupanya terdorong pula oleh gugurnya seorang pengemudi bernama Sakiman dalam rangka berjuang mempertahankan kantor PDTG. Pada waktu itu, Tentara Republik Indonesia Divisi III Siliwangi mendirikan Bagian Tambang, yang tenaganya diambil dari PDTG. Setelah kantor di Rembrandt Straat ditinggalkan oleh pegawai PDTG, pasukan Belanda mendirikan lagi kantor yang bernama Geologische Dienst ditempat yang sama. Di mana-mana terjadi pertempuran. Maka, sejak Desember 1945 sampai dengan Desember 1949, yaitu selama 4 tahun berturut-turut, kantor PDTG terlunta-lunta berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya.

Pemerintah Indonesia berusaha menyelamatkan dokumen-dokumen hasil penelitian geologi. Hal ini menyebabkan dokumen-dokumen tersebut harus berpindah tempat dari Bandung, ke Tasikmalaya, Solo, Magelang, Yogyakarta, dan baru kemudian, pada tahun 1950 dokumen-dokumen tersebut dapat dikembalikan ke Bandung.

Dalam usaha penyelamatan dokumen-dokumen tersebut, pada tanggal 7 Mei 1949, Kepala Pusat Jawatan Tambang dan Geologi, Arie Frederic Lasut, telah diculik dan dibunuh tentara Belanda. Ia telah gugur sebagai kusuma bangsa di Desa Pakem, Yogyakarta. Sekembalinya ke Bandung, Museum Geologi mulai mendapat perhatian dari pemerintah RI. Hal ini terbukti pada tahun 1960, Museum Geologi dikunjungi oleh Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno.

Pengelolaan Museum Geologi yang semula berada dibawah PUSAT DJAWATAN TAMBANG DAN GEOLOGI (PDTG), berganti nama menjadi: Djawatan Pertambangan Republik Indonesia (1950-1952), Djawatan Geologi (1952-1956), Pusat Djawatan Geologi (1956-1957), Djawatan Geologi (1957-1963), Direktorat Geologi (1963-1978), Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (1978 - 2005), Pusat Survei Geologi (sejak akhir tahun 2005 hingga sekarang).

Seiring dengan perkembangan zaman, pada tahun 1999 Museum Geologi mendapat bantuan dari Pemerintah Jepang senilai 754,5 juta Yen untuk direnovasi. Setelah ditutup selama satu tahun, Museum Geologi dibuka kembali pada tanggal 20 Agustus 2000. Pembukaannya diresmikan oleh Wakil Presiden RI pada waktu itu, Ibu Megawati Soekarnoputri yang didampingi oleh Menteri Pertambangan dan Energi Bapak Susilo Bambang Yudhoyono.

Dengan penataan yang baru ini peragaan Museum Geologi terbagi menjadi 3 ruangan yang meliputi Sejarah Kehidupan, Geologi Indonesia, serta Geologi dan Kehidupan Manusia. Sedangkan untuk koleksi dokumentasi, tersedia sarana penyimpan koleksi yang lebih memadai. Diharapkan pengelolaan contoh koleksi di Museum Geologi akan dapat lebih mudah diakses oleh pengguna baik peneliti maupun grup industri.

Sejak tahun 2002 Museum Geologi yang statusnya merupakan Seksi Museum Geologi, telah dinaikkan menjadi UPT Museum Geologi. Untuk menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik, dibentuklah 2 seksi dan 1 SubBag yaitu Seksi Peragaan, Seksi Dokumentasi, dan SubBag Tatausaha. Guna lebih mengoptimalkan perananya sebagai lembaga yang memasyarakatkan ilmu geologi, Museum Geologi juga mengadakan kegiatan antara lain penyuluhan, pameran, seminar serta kegiatan survei penelitian untuk pengembangan peragaan dan dokumentasi koleksi.
Pergeseran fungsi museum, seirama dengan kemajuan teknologi, menjadikan museum geologi sebagai :
  • Tempat pendidikan luar sekolah yang berkaitan dengan bumi dan usaha pelestariannya.
  • Tempat orang melakukan kajian awal sebelum penelitian lapangan. Dimana Museum Geologi sebagai pusat informasi ilmu kebumian yang menggambarkan keadaan geologi bumi Indonesia dalam bentuk kumpulan peraga.
  • Objek geowisata yang menarik.

 
Copyright © 2014 Travellinesia All Rights Reserved